4 Perkara Yang Membatalkan Wudhu

2 min read

4 Perkara Yang Membatalkan Wudhu – Seperti yang kita ketahui bahwa berwudhu berupan cara bersuci hadas. Berwudhu juga merupakan syarat di terimanya sholat, apabila wudhu kita batal maka dapat dikatakan bahwa sholat kita juga tidak sah.

Sebagai seorang muslim bertaqwa kepada Allah Swt, sebaiknya untuk lebih memperhatikan perkara yang dapat membatalkan wudhu. PAda kesempatan kali ini, kami akan membahas perkara apa saja yang dapat membatalkan wudhu.

4 Perkara yang membatalkan wudhu adalah sebagai berikut:

1. Kencing, BAB, Kentut

Salah satu yang menjadi pembatal wudhu yang pertama adalah buang air kecil dan besar dan kentut.

Para ulama sepakat yang menjadi salah satu yang membabtalkan wudhu yaitu jika keluar kencing dan buang air besar atau BAB baik itu dari depan maupun dari belakang.

Sedangkan dalil yang mengatakan bahwa kentut (baik dengan terdengar maupun yang tidak) dapat membatalkan wudhu adalah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.

Kemudian dalil yang mengatakan bahwa kentut dapat membatalkan wudhu adalah sebagai berikut

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu seorang seseorang.

2. Hilangnya Kesadaran

Hilangnya kesadaran yang dimaksudkan disni adalah seseorang jatuh pingsan, gila, dan mabuk. Hal inilah yang membatalkan wudhu seseorang.

baca juga: 6 Hal Yang Dapat Membatalkan Sholat

3. Keluarnya Mani, Wadi, dan Madzi

Jika keluar mani, maka seseorang diwajibkan untuk mandi. Mani bisa membatalkan wudhu berdasarkan kesepakatan para ulama dan segala sesuatu yang menyebabkan mandi termasuk pembatal wudhu.

Wadi adalah sesuatu yang keluar sesudah kencing pada umumnya, berwarna putih, tebal mirip mani, tetapi berbeda warnanya dengan mani. Wadi tidak memiliki bau yang khas.

Sedangkan madzi adalah cairan berwarna putih, tipis, lengket, keluar ketika bercumbu atau ketika membayangkan jima’ (bersetubuh) atau ketika nafsu sedang menggebu-gebu. Madzi tidak menyebabkan lemas dan terkadang keluar tanpa terasa yaitu keluar ketika muqoddimah syahwat. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki madzi.

Madzi bisa membatalkan wudhu berdasarkan hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Tholib. ‘Ali mengatakan,

كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ ».

“Aku termausk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Kemudian aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, “Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu”.

Sedangkan wadi sama dengan madzi jadi perlakuan wadi sama perlakuannya dengan madzi.

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.

“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.

4. Tertidur

terdapat dua jenis tertidur, satu tertidur yang tidak membatalkan wudhu dan tertidur yang dapat membatalkan wudhu. tertidur yang membatalkan wudhu yaitu tertidur yang sepenuhnya hilang kesadaran hingga air liurnya menetes baik tertidur dalam keadaan berdiri, duduk atau dalam keadaan baring.

sedangkan tertidur dalam sesaat, tertidur jenis ini tidak membatalkan wudhu karena tertidur yang tidak sepenuhnya hilang kesadarannya, ia masih bisa mendengar sesuatu yang berada disekitarnya.

Di antara dalil hal ini adalah hadits dari Anas bin Malik,

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ.

“Ketika shalat hendak ditegakkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang dan shalat bersama

Qotadah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas berkata bersama mereka,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِى وَاللَّهِ.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ketiduran kemudian mereka pun melakukan shalat, tanpa berwudhu lagi.” Ada yang mengatakan, “Benarkah engkau mendengar hal ini dari Anas?” Qotadah, “Iya betul. Demi Allah

Semoga paparan yang kami berikan diatas tentang 4 perkara yang membatalkan wudhu mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua, dan kita lebih memperhatikan lagi mengenai hal-hal yang dapat membatalkan wudhu kita. Semoga kita semua tergolong manusia yang bertaqwa kepada Allah Swt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *